Baca Juga :

Foto: Ilustrasi

Wahai wanita, jangan takut untuk berkahwin dengan lelaki yang tidak kaya dengan harta benda kerana kekayaan boleh dicari bersama selepas mendirikan rumahtangga.
Tapi takutlah untuk berkahwin dengan lelaki yang miskin dari segi iman dan tanggungjawab, kerana hal itu bakal membuatkan kamu tidak bahagia dengan rumah tanggamu kelak. Percayalah saat kita berkahwin, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki dengan mudah.

Allah SWT berfirman:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32).

Percayalah, selama kita beriman dan bertaqwa di jalan Allah, maka sangat mudah bagiNya untuk mengabulkan segala doa-doa anak Adam, yang sedang meminta untuk diberkati kerana telah menyempurnakan separuh agamanya.

Baca Juga :

Kapan Nikah via http://abiummi.com
Hari ini salah satu pertanyaan yang masuk dalam nominasi terfavorite ialah "Kapan menikah?" pertanyaan yang menyentil sejak usia memasuki dewasa dimulai dari 23 tahun, seusai menyelesaikan pendidikan berstatus mahasiswa. Usai acara Wisuda dengan berbagai foto bahagia menggunakan toga yang akirnya didapatkan setelah menempuh waktu 4 hingga 6 tahun study. Terlebih bagi yang tidak menyandang status mahasiswa pertanyaan itu akan menyentil lebih cepat. Tentu saja setiap orang ingin menikah karena hidup terus berlanjut dan untuknya kita memerlukan keturunan sebagai pewaris dari apa yang kita miliki. Salah satunya kepercayaan selaras dengan yang dikatakan Sahli (1994) perkawinan sebagai hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama memenuhi hasrat melangsungkan hidupnya dengan menurunkan keturunannya.

Tertulis jelas juga dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 1/1974, bab I, pasal 1 bahwa “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.Perkawinan tidak hanya ikatan lahir yang tampak oleh kasat mata tetapi juga bergandengan dengan ikatan batin, sesuatu yang menyangkut jiwa dengan hati yang tulus ikhlas.

Setiap perempuan dan laki-laki yang telah dewasa tentu saja ingin memiliki hubungan yang terbuka dalam ikatan yang diakui oleh semua lapisan masyarakat yakni pernikahan tetapi hal itu tidak cukup sampai disitu saja, mereka juga ingin memiliki ikatan batin dimana ikatan inilah yang paling penting untuk mencapai tujuan dari sebuah pernikahan. Padahal kedua orang tua, om-tante, ibu tetangga, dan orang-orang yang telah lebih dulu melewati masa itu seolah tidak paham tentang "pernikahan" hingga masih saja bertanya "Kapan menikah?"
Kalau kamu yang mendapat pertanyaan "Kapan menikah?" adalah seorang perempuan, jawab saja "Sedang menunggu pemilik tulang rusuk ini melamarku, doakan supaya Tuhan segera mendatangkannya ke rumahku" jika kamu seorang laki-laki jawab saja, "Tuhan yang menuliskan takdirku dan aku tidak ikut serta."

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Baca Juga :

falling big via https://www.hipwee.com
Dalam hidupnya manusia tidak lepas dari kesalahan. Kesalahan besar ataupun kesalahan kecil. Itu sifat manusiawi yang umum ditemui. Tugas manusia hanya berusaha untuk berbuat yang terbaik, menghindari kesalahan semaksimal mungkin.

Namun, ada kalanya manusia melakukan kesalahan dengan sengaja. Nalurinya sebagai salah satu makhluk di alam ini terkadang memaksanya melakukan professional foul dengan alasan yang beragam. Dari sekian banyak alasan, “mempertahankan diri sendiri” adalah alasan yang sering dikemukakan secara sadar atau tidak.
Kesalahan-kesalahan kecil atau besar yang pernah dilakukan seseorang terkadang membuatnya menjadi seorang “pendosa”. Terpenjara karena kesalahannya. Dan dicemooh karena kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalunya.
Pepatah mengatakan “segalak-galaknya harimau tak akan memakan anaknya sendiri”. Pepatah itu bisa bermakna orang yang kejam tak akan mencelakakan orang yang dikasihinya. Bisa juga bermakna sejahat apapun orang pasti mempunyai rasa kemanusiaan.
Kesalahan yang dilakukan oleh setiap manusia. Pasti berdampak buruk bagi dirinya sendiri pada khususnya. Umumnya berdampak buruk pada orang lain. Suatu saat “si pendosa” akan sadar pada kesalahannya. Jika egois mendominasi dirinya dia akan terus berada dalam kesalahannya dan mengulanginya. Namun jika rasa menyesal menguatkan dirinya, dia akan berubah menjadi orang yang lebih baik.
Bertaubat adalah jalan satu-satunya untuk kembali pada jalan kebenaran. Dan menghindar dari berbagai dosa dan kesalahan di masa lalunya.
Seseorang memang berhak punya penilaian. Dan masa lalu adalah salah satu objek penilaiannya. Namun, terkadang seseorang terlalu melibatkan perasaan kebencian terhadap masa lalu si pendosa dalam menilai, hingga penilaiannya sudah tidak objektif lagi.
Ada pepatah lagi mengatakan “Lebih baik mantan preman, dari pada mantan ustadz”.
Makna pepatah di atas kurang lebih seperti seseorang dengan masa lalunya yang kelam masih punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Asalkan dia punya niat yang bersih, menyesal pada perilakunya dahulu dan meminta ampunan pada tuhan dan/atau seseorang yang pernah disakitinya. Tapi sayang, nasi sudah menjadi bubur, kebijakan sosial selalu mendominasi bahwa keburukan seseorang di masa lalunya dipercaya sebagai watak yang tidak akan pernah hilang.
Buat para “pendosa” jangan pesimis dikatakan “Kamu bukan orang yang dipercaya lagi”. Ada yang lebih maha tahu tentang hati kamu. Jangan khawatir jika orang-orang tidak percaya kamu sudah berubah. Karena mereka tidak tahu dan tak akan pernah bisa menyelami hati kamu yang sudah berubah. Mereka hanya menilai masa lalumu. Maafkan saja mereka, karena ksatria sejati itu adalah si “pemaaf”. Yang penting harus diyakini adalah “Tuhan tahu kita sudah berubah, minta pada tuhan untuk membukakan hati orang-orang yang tidak pernah percaya bahwa kita sudah berubah menjadi lebih baik”.
Semoga, masa lalu buruk yang pernah kita lakukan kita sadari dan sesali, hingga terlahir maaf dan berbuah ampunan. Jangan risau pada manusia yang tidak percaya, karena Tuhan maha tahu segalanya.
Ngamprah, 6 September 2016.
Cs. Maulana

Baca Juga :

Panduan Memilih Istri Menurut KH Bisri Musthofa dalam Tafsir Al-Ibriz
Ilustrasi (via dumsk.com)

فيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَ لَا جَآنٌّ

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh manusia maupun jin sebelumnya. (QS. Al Rahman: 56)

Dalam menafsiri ayat tersebut, KH Bisri Musthofa Rembang, berkata dalam kitab tafsirnya yang berjudul Al Ibriz li Ma'rifati Tafsiri Al Quran Al 'Aziz sebagai berikut:

Ana ing suwarga, ana ing panggung-panggunge lan gedung-gedunge, ana wadon-wadon kang ngeringkes paningal (ateges wadon-wadon kang tresna banget marang kakunge. Ora wadon-wadon kang mata keranjang). Selawase ora tahu kagepok dening menungsa sadurunge ahli suwarga, lan ora kagepok dening jin.

Ya, tafsir Nusantara yang berbahasa jawa bertuliskan arab pegon itu berbunyi:

Di surga, di panggung-panggung dan gedung-gedungnya, ada wanita-wanita (bidadari) yang membatasi pandangannya (maksudnya, wanita-wanita yang sangat mencintai suaminya, tidak wanita yang mata keranjang). Selama-lamanya (wanita itu) tidak pernah tersentuh oleh manusia sebelum ahli surga, dan tidak (pernah) tersentuh oleh jin.

Kiai Bisri menafsiri bahwa para bidadari-bidadari surga itu saking cintanya yang besar dan tulus terhadap suaminya. Maka mereka semua membatasi pandangannya, tidak pernah melirik sedikitpun terhadap suami ahli surga yang lainnya. 

Tidak pernah tergiur akan kegantengan suami ahli surga lainnya. Dan kesucian wanita-wanita surga itu pun juga terjamin, karena mereka sebelumnya tak pernah tersentuh oleh satu makhluk pun, baik dari golongan manusia maupun jin.

Yang menarik dari tafsir ini, adalah tentang pendapat Kiai Bisri tentang wanita di dunia yang  ia paparkan kemudian dalam kalam muhimmatun (penting) selanjutnya:

Wong-wong wadon dunya iku biasane lan umume yen banget ayune iku cok bisa gampang kepincut marang wong lanang kang den anggep bagus utawa luwih bagus katimbang kakunge.

Ia menjelasakan bahwa wanita-wanita dunia itu biasanya dan bahkan umumnya, jika kecantikannya di atas rata-rata terkadang mudah terpikat kepada laki-laki lain yang menurutnya ganteng, atau lebih rupawan dari pada suaminya sendiri.

Lebih lanjut dijelaskan:

Sebab wadon kang banget ayune iku sasat angger wong kepingin nyawang, mengko yen kebeneran penyawange wong lanang bagus iku bisa pas tatapan karo panglirike wadon, biasane banjur kaya ana setrume. 

Kiai Bisri kemudian memberikan analoginya. Wanita yang cantiknya di atas rata-rata, sewajarnya setiap manusia memiliki keinginan untuk memandang elok wajahnya. Nah, nanti jika kebetulan bersamaan antara pandangan laki-laki rupawan dengan lirikan mata wanita itu biasanya akan timbul getaran yang menyerupai aliran listrik. Kalau sudah begitu, apa yang terjadi?

Mula wadon nuli arang-arang kang kuat naggulangi coba, mula banjur kedadean kang ora bagus.

Jika sudah seperti demikian. Sudah timbul getaran nafsu antara laki-laki rupawan dengan wanita yang cantik pula. Sangat jarang sekali di dunia ini, didapati wanita yang kuat menanggulangi cobaan berupa getaran nafsu tersebut. 

Maka dari itu, di kemudian hari sering ditemui hal yang kurang baik. Bisa jadi hubungan di luar pernikahan, bagi yang masih perawan. Atau bahkan perselingkuhan bagi wanita yang sudah bersuami. Na'udzubillah. 

Ulama kenamaan asal Rembang yang juga ayahanda dari KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) tersebut, kemudian memberikan anjuran kepada para pria dalam tafsirnya:

Mulane para kakung yen milih bojo, aja namung rupa. Senajan mungguhing rupa bijine namung nenem utawa pitu kurang, nanging yen atine patut dibiji songo, sak ora-orane wolu utawa pitu, mungguh aku luwih utama katimbang rupane bijine songo, nanging atine biji lima utawa papat, utawa katimbang rupane biji sepuluh, nanging mata keranjang. Wallahu a'lam.

Oleh karena itu, para lelaki jika memilih seorang istri jangan hanya menilai tingkat kecantikannya saja. Jika dikalkulasikan, andai ada seorang wanita kecantikannya hanya bernilai enam atau tuju kurang, tapi jika hatinya patut dinilai sembilan atau setidaknya delapan atau tujuh, menurutnya lebih utama. 

Daripada kecantikannya bernilai sembilan, tapi hatinya bernilai lima atau empat. Atau bahkan kerupawanannya bernilai sempurna, sepuluh misalnya, tapi mata keranjang. (itu lebih hina), wallahu a'lam.

Hal tersebut ternyata juga senada dengan hadits Rasulullah:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ : لِمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَحَسَبِهَا وَدِينِهَا ، 

Rasulullah menjelaskan bahwasannya wanita itu dinikahi atas empat perkara: adakalanya karena hartanya, karena kecantikannya, ada juga karena nasabnya, dan karena agamanya. Namun dalam hadits lanjutannya beliau berkata:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Maka nikahilah wanita karena agamanya, maka tanganmu akan dipenuhi dengan debu.

Wanita, memang memiliki sejuta daya tarik terhadap pria. Setiap jengkal sisi tubuhnya, memiliki tingkat ketertarikan bagi kaum adam. Tidak hanya itu, kehidupannya yang penuh warna pun menjadikan daya tarik tersendiri bagi pria. 

Meskipun demikian, tetap para pria hanya dianjurkan untuk memilih wanita atas dasar agama sebagai kesimpulannya, tidak berdasar kecantikannya. Bagaimanapun, kecantikan akan pudar pada masanya.  

(Ulin Nuha Karim/Mundzir)
Powered by Blogger.
close
Banner iklan disini