Baca Juga :

Kurangkai kembali cerita hati yang tak pernah habis tentangmu, kau yang selalu kujaga dalam asa dan doa, tapi sepertinya itu kemarin dan sekarang aku berhenti mendoakanmu. Ini bukan tanpa alasan, Melainkan sebuah rasa keputus asaan. Sempat aku melangitkan namamu pada-Nya, yang tak pernah bosan aku bertahan dalam rintangan, semua ini agar tak menghantam batasan.


Bukan tentang kekalahan, tapi aku memilih mundur dalam penantian. Kau yang begitu aku impikan, rasanya begitu sulit untuk diwujudkan. Sampai kapan aku menahan sesak berkelanjutan, disaat mataku menjadi saksi dan hatiku menjadi sakit saat melihat kau akan bersanding bersama yang lain.

Aku percaya,  Mungkin ini teguran bagiku dari Allah yang begitu sayang kepadaku untuk segera membenahi diri menjadi pribadi yang lebih berhati hati. Aku berhenti mendoakanmu menjadi jodohku, tetapi kau tetap menjadi bagian histori hidupku yang pernah aku perjuangkan.

Karena Aku Pernah Kecewa dan Terluka Dalam Penantian, Kini Biarkan Semua Berjalan Apa Adanya.
Berangkat dari keterpurukanku saat itu, Aku tidak tau lagi bercerita perihal rasa kecewa yang sangat mendalam selama masa penantian kemarin. Aku tidak ingin membalasmu, Aku tidak ingin membencimu,
Bahkan aku tidak ingin larut karenamu.

Allah hadirkan rasa kecewa separah ini semua karena Dia menyayangiku, tersimpan pesan indah, bahwa menantikanmu bukanlah yang terbaik menurutNya. Untukmu yang pernah kunantikan. Kisahku bersamamu kemarin, menjadikanku semakin dekat kepadaNya. Baru aku sadari, setinggi apa aku berharap kepadamu maka setinggi itu pula nantinya aku akan mulai jatuh hingga kebagian paling bawah.

Maka, aku belajar memaafkanmu untuk kemarin dan sampai kapanpun. Belajar melupakanmu yang sempat memenuhi memori ingatanku. Sejak kepergianmu aku baik baik saja, rasa kecewaku yang penuh luka aku latih dengan belajar bersyukur. Iya bersyukur telah dipertemukan dengan sosok sepertimu hingga berakhir seperti ini, maka kujaga hati dan diriku untuk sosok yang bisa menjaga perasaanku nantinya dan itu bukan sepertimu.

Terimakasih banyak, Menantikanmu kemarin akan selalu menjadi ingatan terburuk dalam hidupku.

Dulu Memang Aku Peranh Berpikir Apakah Kamu dan Aku Tercipta Untuk Bersama, Atau Hanya Bertemu Untuk Sementara.
Tiada jawaban yang mampu meyakinkan hatiku saat ini atas pertemuan kita kemarin. Pertemuan yang menjadi awal di mulainya sebuah kisah yang tak berujung hingga kini. Jelas saja, saat memperhatikanmu dari kejauhan, aku seraya mendoakanmu dalam balutan niat penuh harapan agar ini tak hanya sekadar khayalan.

Aku tak ingin terjebak dalam kesalahan mengharapkanmu bersamaku. Apakah nanti akan di pertemukan lagi atau tidak, apakah nanti akan bersama atau hanya singgah saja aku pasrah kepadaNya. Ikhtiarku tetap meroket menuju angkasa hingga mencapai langit berharap kamu dan aku adalah dua insan yang memang ditakdirkan saling melengkapi separuh agama ini.

Kamu yang sempat terlihat olehku, ada aku yang dibalik pekatnya malam selalu memintamu padaNya segera dipertemukan kembali dalam ruang yang begitu indah.

Artikel ini merupakan kumpulan status intagram dari @budysatriaa

Baca Juga :

Dalam sebuah hubungan pernikahan, pasti selalu di hadapkan dengan sebuah masalah. Karena hidup dalam satu atap dengan kepribadian yang berbeda pasti akan mempunyai perbedaan dan ketidakcocokan. Namun, bila masalah datang melanda, Jangan meninggalkannya untuk mencari yang lebih baik.


Wajar saja dalam sebuah hubungan terjadi permasalah, misalnya seorang istri melakukan kesalahan. Lantas sebagai seorang suami jangan langsung mencari yang lebih baik dan meninggalkanya. Lebih baik kamu menerima segala kekurangannya sambil berusaha untuk memperbaikinya.

Bersabarlah, Karena Tugasmu Memang Bukan Hanya Untuk Mendampinginya, Tapi Menyempurnakan Kekurangannya.
Setelah kamu memutuskan untuk menikahinya, sebenarnya kamu sudah bertanggungjawab atas dirinya di dunia dan akhirat. Lantas bila dia membuat kesalahan, janganlah berfikir untuk meninggalkanya dan mencari yang lebih baik.

Sebab kamu lebih baik memperbaikir dirinya dan membimbingnya dengan lemah lembut. Bukan kah dalam berumah tangga itu harus bisa saling menerima kekurangan masing-masing?

Istrimu Tidak Datang Dari Surga, Maka Pantas Saja Jika Dia Masih Memiliki Kekurangan dan Kadang Membuat Kesalahan.
Yang benar kamu harus pahami tentang istrimu adalah bahwa dia manusia biasa yang bisa saja membuat kesalahan kapan saja. Dia bukanlah bidadari syurga yang tiada cela dan kesalahan. Jadi masih pantas kok bila dia membuat kesalahan.

Begitu pula denganmu, tentu saja sebagai suami mempunyai kekurangan dan membuat kesalahan. Tapi kadang Allah menutupinya supaya kamu mengetahui caranya menyempurnakan istri mu.

Jadilah Suami yang Tidak Hanya Mampu Mendampinginya, Tapi Jadilah Suami yang Benar-benar Bisa Melengkapinya Dengan Ketulusan.
Oleh sebab itu, kamu bisa loh menjadi suami yang baik dan bisa mendampinginya. Jadilah suami yang mencintainya dengan ketulusan dan bisa memperbaiki dirinya.

Jangan coba sesekali untuk meninggalkannya karena belum tentu juga kamu mendapatkan yang lebih baik meski kamu menemukan yang lebih menarik. Lebih baik kamu pertahankan yang baik, karena yang menarik belum tentu yang terbaik.

Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami Artikel ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar Artikel ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Sumber Artikel : humairoh.com 

Baca Juga :


Gambar mungkin berisi: 1 orang

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
“Habib, saya mau pulang saja.”
“Lho, kenapa?” tanya beliau.
“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati, tidak pantas saya menuntut ilmu, saya minta izin mau pulang.”
Habib Abdullah berkata “Jangan dulu, sabar.”
“Sudah Bib, saya sudah empat tahun bersabar, sudah tidak kuat, lebih baik saya menikah saja.”
Lalu beliau berkata “Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.” santri itu menjawab “Sudah bib, saya menghafalkan setengah mati, tidak hafal- hafal.”

Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun.
Kemudian Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat.
Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
“Ini surat siapa?” tanya Habib.
“Owh, itu surat ibu saya.”
“Bacalah!”
Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai.
Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.
“Sudah ya habib.” “Berapa kali?” tanya beliau.
“Satu kali ya habib." “Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”
“Ibu saya berkata saya disuruh mencari ilmu yang bener, bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.”
Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.
“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal, sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.

Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan:
ﻷﻧﻚ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺃﻣﻚ ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ ﻓﻠﻮ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻧﺒﻴﻚ ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ
ﻟﺤﻔﻈﺖ ﺑﺎﻟﺴﺮﻋﺔ

“Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu, coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad Saw dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ”
Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu, sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya.
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻓﺘﺢ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻓﺘﻮﺡ ﭐﻟﻌﺎﺭﻓﻴﻦ ﻭﺍﺭﺯﻗﻨﺎ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﻨﺒﻴـﻴﻦ ﻭﺇﻟﻬﺎﻡ ﭐﻟﻤﻼﺋﻜﺔ
ﺍﻟﻤﻘﺮﺑﻴﻦ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ ﻳﺂ ﺃﺭﺣﻢ ﺍﻟﺮﺍﺣﻤﻴﻦ

(Habib Abdullah bin Umar Assyatiriy adalah ayahanda Habib Salim bin Abdullah Assyatiriy)


Baca Juga :

Kita hidup dengan banyak orang. Sungguh beruntung bila kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang selalu berpikiran positif. Tapi kadang kita tak bisa menghindari hadirnya orang-orang yang bisanya cuma memperburuk keadaan.
Paling menyebalkan memang bila ada orang yang menggosipkan keburukan dan kejelekan kita. Apalagi kalau orang tersebut bukan orang yang benar-benar kita kenal dan sok tahu sendiri, benar-benar bikin kesal. Tapi ya kalau terlalu mengurusi mereka, kita bakal buang-buang waktu saja. Jadi mending diketawain aja.
1. Waktu kita terlalu berharga untuk orang-orang "beracun"
Daripada ngurusin orang-orang yang bisanya cuma membuat hidup menderita, mending kita fokus untuk mengisi hari kita dengan hal-hal yang lebih bermakna. Tak perlu memberi ruang pada orang-orang yang "beracun". Lebih baik fokus menikmati hari kita dengan lebih banyak kebahagiaan
2 of 3

“Even if you cannot change all the people around you, you can change the people you choose to be around. Life is too short to waste your time on people who don’t respect, appreciate, and value you. Spend your life with people who make you smile, laugh, and feel loved.” ― Roy T. Bennett, The Light in the Heart

teman
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/Matheus Ferrero
2. Haters are gonna hate
Mau diladeni pun, orang-orang tersebut juga bakal tetap melakukan hal yang sama. Jadi biar saja mereka hidup dengan menggali lubang mereka sendiri. Tak usah terlalu dipikirkan. Daripada buang-buang tenaga mengurusi orang yang hobinya cuma menggosip, lebih baik kita gunakan energi kita untuk membuktikan kalau kita bisa melakukan hal-hal yang lebih istimewa.
3. Kebahagiaan kita bisa jadi derita mereka
Sebenarnya mudah kok untuk membuat orang yang membenci kita itu makin kesal. Tinggal kita perlihatkan saja bagaimana kita bisa tetap bahagia dan tertawa di keseharian kita. Mereka bakal capek dan sakit hati sendiri dengan racun yang mereka tebar itu.
3 of 3

“The best way to treat obstacles is to use them as stepping-stones. Laugh at them, tread on them, and let them lead you to something better.” ― Enid Blyton, Mr Galliano's Circus

passion 2
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@sclensstudio_339
4. Jadikan motivasi untuk melangkah lebih jauh
Semua bahan gosip dan hal-hal tak mengenakkan yang kita dengar itu kita jadikan motivasi saja. Motivasi untuk melangkah lebih jauh. Motivasi untuk melakukan lebih banyak hal lain untuk membawa kita berada di level berbeda dan lebih tinggi daripada orang-orang yang bisanya cuma menjatuhkan kita.
Kita hidup dengan banyak orang. Memang sulit untuk membuat semua orang bisa suportif dan mendukung kita setiap saat. Ada saja orang yang ingin menjatuhkan kita atau membuat kita menderita. Tapi hidup ini kita yang punya dan perjuangkan, jadi tak perlu buang-buang energi untuk menanggapi orang-orang "beracun" jadi mending ketawain aja, ya.
Powered by Blogger.
close
Banner iklan disini